This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 14 November 2011

Haruskah?

Saat tetes peluh air mata membanjir dan menggenang
Tak kau usap bahkan tak sudi kau pandang

Bukan hati namun kepercayaan
Percayaku akan tulus janji yang kau tinggalkan

Seketika kau buat ini sirna
Tanpa kau jabat lagi ucapmu yang hilang entah kemana

Kembali kau kuak luka bersimbah pedih ini
Dan kau tak mau tahu lagi, sedang kini ku tersakiti

Sudah berkali aku memberimu angan
Tak ada sekali kau tak membuatnya jadi kenangan

Apakah harus ku berikan lagi?
Apa kau tidak terlalu bosan untuk menjalani kepalsuan lagi?

Kau tidak sedang aku iya
Kau sanggup sedang aku merana

Sudah hentikanlah
Sudah enyahlah

Lebih mulia jika tak kukoyak lagi hatiku
Demi seorang cakap besar sepertimu

Orang yang tak tahu akan hati yang tulus
Dan hanya sadar jika itu pupus

ABK

Titik Terang

Ketika langkahnya menderu dengan lembaran kertas di genggamnya
Sorot sendu dan tutur lugas selalu menyertainya
Pupus amarah hilang tanpa arah melindunginya
Senyum ditengah raungan sakit hati itu miliknya
Seketika dirinya adalah panutan di padang kehampaan
Hampa yang tak berujung terang kepercayaan
Percaya dengan keruh anyirnya pendidikan
Di negeri tak berperikemanusiaan

Legam hitam kusam yang ada dalam benak
Jika ingat tentang anak pinakku kelak
Ia bagai setitik penyelamat di masa tak enak
Masa dimana palsu dijadikan bagai raja bertahta congkak

Kata demi kata dirangkai dalam seriusnya
Berharap kan banyak gumaman tanya dan perhatian untuknya
Namun apa daya itu hanya harapnya
Kesana kemari diperhatikan sabar murid kesayangan yang mengacuhkannya

Benar adanya tak ada raut amarah di parasnya
Hanya helaan napas panjang menenangkan jiwanya
Tak ada sedikitpun bentak sentak menggertak dari dirinya
Inilah panutan bersahaja yang diberikannya


ABK

Rabu, 31 Agustus 2011

My Long Journey

Perbedaan, suatu kata yang banyak disandang satu sama lain umat manusia. Jenis perbedaan yang beragam dielu-elukan dapat menjunjung persatuan. Namun aku dan hidupku sekarang ini. Aku dan keluargaku. Terlalu banyak puing perbedaan yang terselip diantara kami. Hidup dengan dua keyakinan berbeda.
Aku terlahir di keluarga yang kecukupan bahkan bisa dikatakan mampu. Aku teramat bersyukur pada Tuhan atas segala yang dikaruniakan-Nya padaku. Segala kemampuan dalam diriku dan segala kebutuhan untuk kehidupan ku selalu ter saji dengan rapi sesuai keinginanku. Kedua orang tua yang teramat menyayangi ku. Tentunya karena aku putri bungsu mereka satu-satunya. Dan kedua adik ku yang terkadang membuatku merasa nyaman dan muak. Tuhan memang benar-benar menyayangi ku.
Pindah nya kedua orang tua ku ke kota yang jarang kudengar bahkan aku tak tahu dimana letak kota itu mengawali semua kisah ku. Kota Kendari Sulawesi Tenggara, menjadi kota ter asing yang pernah kudengar saat Ayah berkata pada ku akan memboyong keluarga kami pindah ke kota tersebut karena tuntutan tugasnya. Aku sangat mengerti posisi ayah. Dia selalu memimpikan suatu yang terbaik bagi keluarganya dan inilah jalan terbaik bagi kami.
Teramat sedih yang kurasa sebagai seorang gadis kecil yang harus terpisah dengan keluarga besar ku di Jawa. Terlalu sedih hingga setiap malam aku selalu menangis ketika melihat wajah tante ku yang selalu menemani ku bermimpi. Aku enggan berpisah dengan seorang yang teramat berjasa bagiku yang telah ikut campur menggendong aku dan hidupku semenjak mataku terbuka untuk berjumpa dengan dunia. Aku tidak menginginkan hari keberangkatan itu tiba. Kucoba memutar jarum jam dengan arah terbalik dan tentunya waktu tidak akan kembali. Hal yang teramat konyol bagi gadis berusia sembilan tahun.

¸,¤°´'`°•.¸¸.•°´'`°¤,¸

Hari yang paling membuat air mataku habis menguap. Mbah uti, mbah kakung, tante, om dan sebagian sanak saudara yang menyempatkan datang melepas kepergian keluarga kami dengan sedikit isak tangis dan muka tak tega. Jika aku tak perlu ditanya, tak berani sedikit pun aku tolehkan mukaku pada mereka saat mobil mulai berjalan. Berjaga-jaga jika air mataku akan lebih banyak jatuh jika melihat sekumpulan orang yang berarti itu.
Bandara Ahmad Yani menjadi awal pertamaku memulai petualangan ini. Keberangkatan dari pukul 12.30 WIB, harus tiba di kota baruku pukul 03.15 WITA. Pengalaman pertama ku beradaptasi dengan mesin raksasa bernama pesawat, sebenarnya kedua karena pertama kualami saat masih di alam kosong dalam perut ibu namun anggap saja pertama. Terlalu mengecewakan karena mengalami pelayanan buruk dengan penundaan keberangkatan di Semarang, Jakarta, Makassar dan tentu lengkap sudah penyambutanku di Kendari diakhiri dengan take off yang mendebarkan jantung. Namun, karena ini pertama dan aku baru berusia sembilan tahun aku menyimpulkan dengan takjub bahwa pelayanan pesawat memang selalu begini. Kedua adikku yang masih kecil merasa bahagia karena mereka tak perlu lagi bermimpi menaiki pesawat walaupun dengan pelayanan yang membuat keluhan terus datang.
Hari pertama di kota asing Kendari. Aku dibangunkan oleh getaran hp ibu yang menyatakan bahwa mbah uti menelpon. Segera kusibak selimut yang melekat pada tubuhku dan kuangkat. Tanpa henti riang ku bercerita tentang pengalaman menakjubkan ku semalam. Keluargaku yang ikut menyambung lidah pun hanya bisa tertawa. Seandainya saja kedua adikku saat itu mau bangun, pasti dapat mengobati rindu mereka pada kami yang baru satu hari merantau.
Aroma ikan goreng menghentikan pebicaraanku dengan keluarga besarku di Jawa. Segera ku hampiri asal aroma itu dan kutemukan ibu sedang asiknya mengeksekusi ikan dengan bumbu mi instan. Sangat menggelikan, karena baru kali ini aku melihat ibuku yang selalu menggunakan rempah untuk memasak dan kini menggunakan bumbu instan. Ibu memang penuh dengan ide. Ia melakukan hal ini karena ia belum dapat berbelanja ke pasar dan memanfaatkan bahan yang ada di rumah dinas. Aku benar-benar menyayanginya.
''Ayah kemana bu?''
''Sudah ke kantor nak, ayo tolong ambilkan ibu piring dan kita sarapan''
''Ayah sudah mulai bekerja ya? cepat sekali'', ucapku seraya menyodorkan piring pada ibu
''Ya ayahmu sedang semangat-semangatnya bekerja. Tadi berpesan pada ibu nanti malam akan mengajak kalian melihat Kendari''
''Yeeey, aku bangunkan adik-adik dulu ya bu'', kutinggalkan ibuku dan bergegas membuat kegaduhan untuk menyadarkan kedua adikku dari mimpi indahnya.
¸,¤°´'`°•.¸¸.•°´'`°¤,¸


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More