Ketika langkahnya menderu dengan lembaran kertas di genggamnya
Sorot sendu dan tutur lugas selalu menyertainya
Pupus amarah hilang tanpa arah melindunginya
Senyum ditengah raungan sakit hati itu miliknya
Seketika dirinya adalah panutan di padang kehampaan
Hampa yang tak berujung terang kepercayaan
Percaya dengan keruh anyirnya pendidikan
Di negeri tak berperikemanusiaan
Legam hitam kusam yang ada dalam benak
Jika ingat tentang anak pinakku kelak
Ia bagai setitik penyelamat di masa tak enak
Masa dimana palsu dijadikan bagai raja bertahta congkak
Kata demi kata dirangkai dalam seriusnya
Berharap kan banyak gumaman tanya dan perhatian untuknya
Namun apa daya itu hanya harapnya
Kesana kemari diperhatikan sabar murid kesayangan yang mengacuhkannya
Benar adanya tak ada raut amarah di parasnya
Hanya helaan napas panjang menenangkan jiwanya
Tak ada sedikitpun bentak sentak menggertak dari dirinya
Inilah panutan bersahaja yang diberikannya
ABK
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar